Kegelisahanku dari bertambahnya umurmu

Thursday, September 4, 2014

0 comments
Ter-untuk,
Wanita perangkai kasih tulus tanpa putus (Ibu)


Tahun ke tahun. Bulan ke bulan. Minggu ke minggu. Hari ke hari. Menit ke menit. Detik ke detik. Perlahan namun pasti, waktu berjalan ke depan tanpa kuasa mengambil yang di belakang.

Banyak sudah hal yang engkau korbankan, hanya untuk melihat diriku disinggahi oleh kebahagiaan.
Semua memori bagai baru berselang, gundah gulana sampai canda tawa. Ku kira ingatan itu sudah hilang, ternyata ia mengakar di relung jiwa.
Nafas dalam sering kali engkau hela, rongga dada mu kembang kempis payah. Menghadapi aku yang keras kepala, dirimu tak pernah jerah.
Tak peduli seberapa aku membebani dan melangkah pergi, sebuah peluk terbaik selalu menanti bila aku kembali.
Benar adanya bahwa engkau malaikat tak bersayap, keadaan apapun tak mampu membuat kasih mu lenyap.


Jujur.. bertambah usiamu membuat ku hilang ketenangan. Gelisah akan sebuah kesempatan, untuk melihat mu menatapku dengan kebanggaan.
Mungkin seringkali aku terlihat tak peduli. Percayalah.. aku hanyalah lelaki yang tak pandai lisankan hati.
Keinginan ku di hari ini dan dimasa depan untuk dapat menjadi seorang seniman, yang pandai mengukir di wajahmu sebuah senyuman pertanda kebahagiaan.





dalam tulisan ini tersirat esensi walau tanpa sensasi, agar engkau mengerti betapa engkau aku cintai






- MoammerBahreza-




Pesan Singkat Dalam Kerinduan

Saturday, April 19, 2014

2 comments
Selalu berhasil perasaan ini mengambil alih pikiran, yang salah pun terlihat seolah jawaban.
Sulit dimengerti mengapa logika ini selalu menjauh dikala perasaan ini datang menjamu.
Yang ku tau jarak ini bertanggung jawab atas adanya rindu yang menghadirkan pilu.
Walaupun kadang sedikit tenang ketika sang waktu datang dan memberi setitik terang.
Seakan memberi jawaban dari semua keresahan yang membentuk pertanyaan.

Sangat tidak pantas melakukan pemaksaan dan menyuruh mu untuk bertahan.
Jelas memaksa bukanlah pilihan, itu hanya menujukkan sisi kelemahan.
Silahkan untuk pergi jika memang ini sudah tidak pantas dijalani,
tahan kata pisah jika memang harapanpun masih ingin mencoba.

Pasti tersirat sedikit resah, tapi kepada Tuhan lah kita berserah.
Mungkin kita sedang lelah, jiwa pun mulai melemah,
Pikiran mulai tak ter-arah, akhirnya terlintas pikiran untuk pasrah.
Ada baiknya kita berhenti dulu sejenak
Melepas penat yang mengundang ego dalam berpendapat,
kemudian marilah kita beranjak menentukan kemana seharusnya kita berpijak


Sekian ~



bertatap muka ku rasa tidak memungkinkan, maka tulisan ini ku utus untuk mewakilkan